Rabu, 26 Desember 2012

Karma, Upaasana dan Jnana Kanda

Karma, Upaasana dan Jnana Kanda

Ida Ayu Pudjawati.

Pustaka Veda adalah pustaka yang paling kuno di dunia dan merupakan gudang kebijaksanaan yang telah membei sumbangan bagi perkembangan umat manusia dalam segala bidang.
Veda telah dibukukan pertama kali dalam sejarah manusia. Veda merupakan ajang lahirnya kebudayaan manusia dan dasar dari segala jenis kekuatan.

Semua cabang ilmu pengetahuan bersumber dari Veda. Veda tidak ada akhirnya, tidak dapat diduga, tidak dapat dilukiskan dan penuh kebahagiaan suci. Kata Veda berasal dari akar kata bahasa Sanskerta “Vid” yang artinya pengetahuan atau jnana. Ishwara jnana atau pengetahuan tentang Tuhan adalah Veda. Atma jnana atau pengetahuan tentang Diri Sejati adalah Veda. Brahma jnana atau pengetahuan mengenai Yang Maha Mutlak dan Maha Tinggi adalah Veda. Advaita jnana atau pengetauan non dualitas adalah Veda. Veda adalah Vijnana atau pengetahuan terunggul. Semua istilah ini merupakan pedoman bagi pengetahuan Diri Sejati atau Atma Jnana.

Ketuhanan Veda itu meresapi segala sesuatu serta memiliki delapan segi keunggulan yaitu; Sabda Brahma mayii sabda Brahman, charachara mayii yang bergerak dan tidak bergerak, jyotir mayii cahaya, vaangmayi kata-kata dan kesusastraan, nityaanandamayi kebahagiaan abadi, paratpara mayi diluar jangkauan pemahaman manusia, maya mayii khayal yang menyesatkan dan srii mayi kemakmuran. Inilah prajnanamaya Brahma sesungguhnya kesadaran terpadu yang tetap. Hal ini tidak menyangkut suatu pribadi, suatu tempat atau waktu. la universal. Karena mengetahui bahwa tidak mungkinlah manusia biasa memahami kitab-kitab Veda yang demikian suci, Maharesi Vyasa membaginya menjadi empat jilid.

Veda terdiri atas tiga kandaa atau bagian, yaitu ; karma kaanda atau bagian yang berkaitan dengan upacara dan kegiatan lain, upaasana kaanda atau bagian kebaktian, dan jnana kaanda bagian yang berkenaan dengan jnana. Ketiga bagian ini menggambarkan langkah-langkah maju dalam evolusi rohani manusia. Manusia mulai dengan kegiatan, ia menyadari bahwa tubuh manusia itu dimaksudkan untuk mencapai dharma, yaitu kebajikan melalui karma. Jika terus melakukan karma yang baik, pada waktunya ia akan siap memahami upaasana praktek kebaktian. Jika ia memuja Tuhan selama beberapa waktu dengan kasih dan semangat pengabdian, ia mencapai tahap akhir jnana. Secara keseluruhan karma, upaasana dan jnana dapat dianggap sebagai tiga tahap dari suatau proses yang dapat dibandingkan dengan bunga, buah mentah dan buah yang masak. Karena orang kebanyakan tidak dapat memahami dan mempraktikkan ajaran Veda, kemudian ditulislah kitab tambahan dalam bentuk Purana atau cerita mitologi dan Itihaasa atau wiracarita agar masyarakat umum dapat melaksanakan karma, upaasana dan jnana.
Bagian akhir kitab Veda adalah Upanishad dan karena itu disebut Vedanta. Upanishad menyebutkan ketiga jalan; karma, upaasana dan jnana sebagai yoga. Sari karma yoga adalah membaktikan seluruh kegiatan kepada Tuhan atau melaksanakan segala kegiatan sebagai persembahan bagi Tuhan, untuk kesenangan-Nya. Upaasana yoga adalah mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati dan dengan Tri karana suddhi, yaitu keselarasan dan kemurnian dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Bukanlah upaasana sejati jika manusia mencintai Tuhan untuk mencapai keinginan duniawi. Kasih haruslah demi kasih itu sendiri. Penganut jnana yoga menganggap seluruh alam semesta sebagai perwujudan Tuhan. Mempercayai bahwa Tuhan bersemayam dalam segala makhluk dalam bentuk atma itu, disebut jnana.

Bhagavad Gita yang muncul kemudian adalah sari Upanishad. Bhagavad Gita membahas jalan karma, upaasana dan jnana dalam tiga shatka. Tiap shatka bagian terdiri dari 6 bab. Jadi dalam Gita, jumlah seluruhnya ada delapan belas bab. Shatka pertama menguraikan jalan karma. Yang kedua membahas upaasana, dan yang ketiga tentang jalan jnana. Ringkasnya, Veda menimbulkan Upanishad, yang selanjutnya menimbulkan Bhagavad Gita yang berguna sebagai pedoman praktis bagi tingkah laku manusia.
Veda mengajarkan dua macam dharma yaitu Vihita dharma dan Nishiddha dharma; dharma yang diwajibkan dan dharma yang dilarang dengan kata lain apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam mengatur hidup seseorang.

Dharma kelakuan yang benar atau kebajikan, artha(harta), kama (keinginan) yang benar, dan moksha(kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian) adalah keempat purusharta yag merupakan tujuan hidup manusia. Dengan membuang dharma yang ibarat kaki dan moksha yang dapat dibandingkan dengan kepala, manusia hanya mengejar artha dan kama sehingga mengakibatkan kekacauan dan keadaan tidak aman dalam masyarakat. Penyebab utama hilangnya kedamaian dan keamanan adalah karena diabaikannya kebenaran dan kebajikan yang sangat dibutuhkan manusia. Tiada kebenaran yang lebih tinggi dari pada japa (mengucapkan nama suci Tuhan) dan melakukan tapa (pengendalian diri). Tiada dharma yang lebih tinggi dari pada welas asih dan tiada musuh yang paling berbahaya dari pada kemarahan, tiada harta yang lebih berharga dari pada kejujuran, tiada perhiasan ,yang lebih indah dari pada smarana (mengingat Tuhan melalui mengidungkan Nama-Nya). Menahi Karata, Hari Hi Karata, Hari Hi Karata Kevalam. Aku bukanlah pelaku. Tuhanlah pelaku, Hanya Tuhan Sang Pelaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar